Maha Mbuh (3)
=============
ilustrasi............
A: Tuhan itu seperti apa??
B: Tuhan itu begini, begitu,dst......
A: O, begitu......
dalam ilustrasi diatas, si B sedang menggambarkan tentang Tuhan, gambaran si B sejatinya adalah "makhluk" si B sendiri, yang disodorkannya sebagai Tuhan bagi si A.......
Maka dalam hal itu si A yang meyakini si B sedang menyembah Tuhan produk gambaran si B......
Demikianlah proses itu turun temurun, gambaran demi gambaran Tuhan di wariskan........ Lalu generasi bawah, menyembah Tuhan hasil gambaran generasi terdahulu....... Padahal semua gambaran adalah makhluk........
Sebagai contoh lebih dalam lagi, biar ces pleng...... orang dulu mengatakan Tuhan itu Dzat, jadilah orang sekarang menyembah Dzat, padahal dzat itu adalah produk gambaran orang dahulu, itu Tuhan hayalan orang dulu......
dzat, sifat, afal, asma, ini adalah contoh gambaran2 dari orang dahulu, sejatinya gambaran itu adalah Tuhan2 ciptaan gambaran orang dahulu, lalu disembah orang sekarang.......
Sekali lagi, padahal gambaran itu makhluk, walaupun gambaran tentang Tuhan, adalah makhluk, bukan Tuhan sesungguhnya......
Lalu Tuhan yang sesungguhnya bagaimana??..... yah tdk bisa digambarkan, sbgmn saya katakan sbg "Maha mbuh ora ngerti"...... Maha mbuh, ini Tuhan sejati......
8 September 2013 pukul 13.01 ·
---------
Ibnu Athoillah izin bertanya guru , diantara hitam dan putih itu ,lebih dulu yg mana guru ?
============================
hitam............. karena hitam dan putih, nah kalau putih dan hitam pasti duluan putihnya........... heuheuheu
secara bawah sadarnya, semua manusia akan menyebut "hitam dan putih", black or white, dimana hitam selalu didahulukan secara refleks.
Sebenarnya refleks refleks itu sudah menjelaskan semuanya, karena bawah sadar manusia itu "JUJUR"...... itulah mengapa hitam disebut duluan.......
Kegelapan itu lebih tua dari Nur Muhammad.......
Kegelapan itulah keadaan "tidak tahu" atau tanpa makrifat. adapun lahirnya Nur Muhammad itu bersamaan dengan ilmu, bersamaan dengan makrifatullah...... Allah melihat Nur Muhammad melalui Nur Muhammad, tapi tak pernah bisa melihat DzatNYA sendiri.........
Karena itulah DzatNYA selalu dikatakan, tak serupa dengan apapun, tak terbayangkan, tak terkatakan, tak tergambarkan, tanpa interpretasi, tanpa definisi dan penjabaran. Karena tak pernah terlihat bahkan oleh diriNYA sendiri.........
15 Agustus 2013 pukul 02.53 ·
---------
PEGANGAN YANG KUAT
==========================
Semuanya ini diawali dari "TIDAK TAHU", bahkan TUHAN saja di awali dari "tidak tahu". Tiada berawal itu adalah kata ganti bagi "tidak tahu kapan awalnya", tiada berakhir itu adalah kata ganti dari tiada tahu kapan berakhirnya, tiada terbatas itu adalah kata ganti bagi tidak tahu dimana batasnya.
Seperti itulah semua cerita ini berawal, yaitu dari tidak tahu, lalu menjadi terang dan muncullah "TAHU"/ILMU.
Silahkan pegangan kuat-kuat agar tidak terjatuh, sebab saya sedang menerangkan tentang lam jalalah.
Allah itu adalah Maha Tahu sekaligus Maha tidak tahu, Maha Mendengar sekaligus Maha tidak mendengar (tuli), Maha melihat sekaligus Maha Buta, Maha berbicara sekaligus Maha bisu.
Sekali lagi, silahkan pegangan kuat-kuat.
Pada awal dari segala cerita, akan selalu menyisakan satu buah pertanyaan yang tak akan pernah bisa dijawab/terjawab, bagaimana Allah bisa ada???..... tak terjawab, bagaimanapun jg caranya, kecuali dgn hal sederhana, "ada sendiri/tahu-tahu ada begitu saja", jawaban yang samar, sbg ganti/penghalus dari kata "tidak tahu". Itulah sebabnya "KETIDAK-TAHUAN" adalah pengetahuan tertinggi itu sendiri. Dan atas hal itulah maka setiap segala sesuatu diciptakan mewarisi sifat tidak tahu itu, lalu segala sesuatupun berputar-putar terus selama-lamanya, hanya untuk "mencari tahu", atom2 berputar-putar, planet dan bintang2 berputar-putar, manusia saja berputar-putar, mencari satu jawaban "SIAPAKAH SAYA".
Allah itu Maha Tuli, Buta dan bisu. tuli disebabkan setiap objek pendengaran itu hanya ada dalam alam makhluk, karena suara itu makhluk, sebab makhluk tak pernah bisa mencapai alam Ketuhanan, maka suara tak pernah mencapai Allah. Demikian halnya objek pandangan, itu semua makhluk, dan makhluk tak mencapai alam Ketuhanan, maka tak ada yg bisa terpandang dalam alam Ketuhanan. Demikian dengan suara/kata2 juga tak mampu menembus alam Ketuhanan. Lalu yang ada hanya sunyi sepi, tanpa penjelasan.
6 Februari 2013 pukul 02.23 ·
_________________
Fatwa Kehidupan
Syekh Muhammad Zuhri | Abah Yolhan Wijaya


Tidak ada komentar:
Posting Komentar