Ilmu Ketuhanan (7)
================
Bagi Para murid dan penyimak
=======================
Saat saya menerangkan tentang ilmu Ketuhanan atau tentang Ketauhidan jangan lagi ada diantaramu yang ketawa ketiwi....... kalau bab umum silahkan saja....... kalau di depan saya, saya akan lempar sendal mukamu........ jangan sembrono.......
2 Mei 2013 pukul 02.53 ·
---------
Kesembronoanmu tatkala pembicaraan atau dalam penjabaran tenang bab2 Ketuhanan, adalah sesuatu yang sangat sangat fatal yang bisa mengakibatkan kecelakaan dan dosa yang super besar. Maka tak boleh sembrono dan ketawa ketiwi saat bab Ketuhanan sdg digelar........
Sungguh lebih mending mereka yang suka berzina daripada yang sembrono banyak ketawa ketiwi saat bab Ketuhanan di jabarkan atau digelar.......
Maka tidak boleh lagi sembrono dalam pembicaraan bab Ketuhanan. Itu adalah wujud engkau "tidak merendahkan dirimu kepada Allah" dan melecehkanNYA....... Diingat-ingat......
2 Mei 2013 pukul 03.12 ·
---------
Assalamu'alaykum pak.. Mgkin ini pertanyaan bodoh, tp ckup memiriskan hti kmrin,,
apakah restu dr kdua ortu itu penting pk dlm mjalani ini semua pk?? Lalu bgaimana kalau ortu kita blm merestui, krna blm tau sdkitpun ttg agama ato ketuhanan??
===============================
Waalaikumsalam
Seandainya engkau non-muslim, lalu apakah engkau akan meminta restu orang tuamu yang juga non-muslim jika hendak masuk islam???...... kita semua faham, bahwa engkau tetap tidak akan direstui mereka, kalaupun meminta restu.
Demikianlah anak terhadap orang tua, atau istri terhadap suami. keadaannya berbeda-beda.
Diantara orang tua itu ada yang memiliki kecendrungan duniawi ada pula yang memiliki kecendrungan kepada Ketuhanan.
Diantara suami itu juga ada yang memiliki kecendrungan duniawi ada pula yang memiliki kecendrungan kepada Ketuhanan.
Jika orang tua saya memiliki kecendrungan duniawi, saya pasti akan direstui jika minta restu dalam hal apapun yang menghasilkan banyak uang. Namun jika saya minta doa restu untuk urusan belajar ilmu Ketuhanan, maka wajahnya pastilah nampak kecut, khawatir ini dan itu.
Sebagai anak saya mestinya sudah faham karakter orang tua saya, kecendrungannya "dimana". Jika mereka memiliki kecendrungan Ketuhanan, tentu saya tak masalah meminta restu utk belajar ilmu Ketuhanan, pastilah hati mereka akan bahagia. Namun jika mrk memiliki kecendrungan duniawi, saya tak akan meminta restu pada urusan yang satu ini. Sebab urusan anak kepada orang tua itu masih berada dibawah urusan anak kepada Sang Pencipta.
Batasan kewajiban itu mesti difahami strata atau tingkatannya. Fahami mengapa Ibrahim as meminta bapaknya utk berhenti menyembah patung, lalu mengakibatkan mereka berdua bertentangan.
Apakah seorang anak mau mengatakan kepada orang tuanya sendiri janganlah menyembah keduniawian??..... sedikit2 mengukur kesuksesan dengan harta benda...... Sbgmn Ibrahim as dulu mengatakan hal serupa kepada bapaknya, agar meninggalkan berhala.
Tentunya hal demikian akan sangat sulit sekali jika tak pintar2 membaca keadaan dan situasi, bisa menghasilkan pertengkaran dalam keluarga. Mau minta ijin orang tua, orang tua masih menyembah berhala duniawi. mau minta ijin suami, suami masih menyembah berhala duniawi. Ujung2nya pastilah MELARANG. Kalau dituruti ujung2nya sama2 menyembah berhala keduniawian.
Kalau bagi saya, jika keadaan ditempatkan dlm posisi spt itu, mending diam2, atau belajar ilmu Ketuhanan dgn gerilya. Itu bagi saya, bagi orang selain saya yah terserah saja.......
16 Mei 2013 pukul 01.20 ·
---------
Ilmu Ketuhanan akan sulit sekali masuk kedalam hatimu jika engkau masih saja selalu mengandalkan "LOGIKA". Kupastikan buntu dan cuman terputar2 isi pikiranmu sendiri, yang mana itu sebenarnya adalah hasil prasangka-prasangka pribadi.
Cara kerjanya bukan seperti itu. Jangan difikirkan, tapi dilakukan dan dihayati dengan sebaik-baiknya. Lalu menjadi nyata dalam pandanganmu apa yang kusampaikan. Barulah mengerti "rasanya" bukan "katanya"........
"Oh, seperti ini maksudnya".........
Seperti ketika kujabarkan tentang "terbang' dahulukala, lalu logikamu bekerja dan mulai menghayalkan dan membayangkannya. Yang engkau dapatkan adalah prasangka2 saja. Namun setelah diantaramu mengalami dan menjalankan langsung, barulah mengerti, "oh seperti inikah maksudnya".
Yang saya katakan bisa engkau buktikan, asal engkau memiliki modal yang cukup: "yakin, tekat, nekat, wani mati'. Untuk apa berhayal terhadap sesuatu yg bisa dinyatakan sendiri.
Lihatlah dirimu sendiri, engkau yg kebanyakan logika, pasti tidak berhasil-berhasil. kebanyakan mikir, tapi keyakinan kurang. hanya pinter debat.......
25 Mei 2013 pukul 01.13 ·
_________________
Fatwa Kehidupan
Syekh Muhammad Zuhri | Abah Yolhan Wijaya


Tidak ada komentar:
Posting Komentar