Powered By Blogger

Kamis, 26 Februari 2026

Post #71

 


PERJALANAN SIDRATUL MUNTAHA

SYAIKH MUHAMMAD ZUHRI

Fatwa Kehidupan

====================

Dalam mi'rojnya Nabi Muhammad SAW maka jibril tak mampu mencapai sidrotul muntaha, puncak dari langit. Dalam diri pribadi ini, jibril itulah puncak kecerdasan akal, akal tak menggapai TUHAN, sbgmn jibril tak menggapai sidrot. Namun bisa mencapai titik tertentu saja dari perjalanan.

Lalu bagaimana jibril menyampaikan wahyu jika tak bisa menggapai puncak langit??...... Jibril pada dasarnya adalah "penjabar", atau yg menerangkan atau penterjemah yang mengerti dan bisa menterjemahkan bahasa nurani menjadi bahasa akal. Dari bahasa yg bisa dimengerti akal itulah wahyu menjadi kalam, lalu kalam menjadi huruf2 tulisan.

Kalamullah yang sejati adalah ibarat kode genetis dari nur Muhammad sendiri. Kalam itulah Kaf, Nur itulah Nun, keduanyalah yang menjadi "KUN". Ibarat kata Nur itu adalah tubuh bagi kalam, sedang Kalam itu adalah kode genetis, yg mana dengan kode genetis itu tubuh bisa berbentuk menurut yang dikehendaki. Demikianlah nur itu bisa mengerti setiap fungsinya.

Dari satu Kalamullah yang tunggal, ia dijabarkan dalam berbagai bahasa dan dalam berbagai wujud rupa kata2. Kalamullah lalu menjelma menjadi Zabur, Taurat, Injil dan Qur'an. Dimana sumber cahayanya adalah sama dan tunggal, penjabaran dari jibrillah yang berbeda2, menyesuaikan kondisi dan keadaan setempat para rasul.

Sampai saat ini Kalamullah dalam wujud cahaya masih ada, dan jibril masih tetap menjabarkannya pada orang2 tertentu, namun tak lagi disebut wahyu, sebab kewahyuan itu sebutan khusus bagi kenabian, ia disebut ilham. Hanya secara parsial atau sebagian2 kecil saja, tidak selengkap turunnya wahyu kepada seorang nabi. Namun setetes embun itu adalah rahmat dan anugrah yang terindah.

Demikianlah, sebenarnya wahyu itu tak pernah berhenti sampai kiamat, hanya sebutannya saja yang berbeda. Kalamullah itu langgeng dan melekat pada diri Allah. Betapa rahmat yang teramat luas yang sulit ditangkap hati yang buta. Jika Qur'an bagimu masih berupa huruf2 tulisan saja, engkau sedang rugi, mestilah mendapatkan cahayanya, dari Kalamullah yang sejati, cahaya yg sebelum dijabarkan/diterjemahkan jibril, itulah permata sesungguhnya.


12 Februari 2013 pukul 02.07 ·

---------


Sesungguhnya nabi Muhammad SAW juga punya khodam (pendamping), malaikat jibril itukan khodamnya. nabi SAW tidak hubungan langsung sama Allah....... Hubungan langsung tanpa perantara itu terjadi pada saat nabi di angkat mi'roj menuju sidratul muntaha.


Jadi adanya khodam (pendamping) itu sudah biasa, gak usah takut. tergantung jenis khodam dan tujuannya.


Kalau khodam2 ilmu kesaktian, itu seringkali jin2 kafir, yg bikin sifat pemarah, emosional dsb. Kalau dari wirid2, itu khodamnya jg variatif, ada yg jin, ada yg malaikat, ada yg hizib, ada yg ruh, dsb. Tergantung karakter waridnya wirid. Maka mesti mengerti sifat waridnya wirid, jika hendak menyusun suatu rangkaian amalan wirid, bukan asal baca.


Karena sifat warid itu ada yg panas (sifatnya membakar dosa), ada yg dingin, ada yg netral, dan fungsinya jg beda2. mesti diramu secara seimbang, jangan terlalu panas, jangan terlalu dingin. agar keseimbangan ruhani orang yg melakukan wirid bs terjaga.


Saya kasih contoh ringan: kamu wiridkan baca "Allahu Akbar" sebanyak-banyaknya, nanti kalau gak hati2 kamu jadi garang dan galak sama orang lain. itu bawaan waridnya. maka cocoknya buat wirid kalau mau PERANG........ semangat tempurnya pasti tinggi2...........


Jadi harus mengerti fungsi2nya, bukan asal baca dan meramu rangkaian wirid/aurod itu adalah jg SENI kegaiban....... Harus faham SENI KEGAIBAN.........


5 Juni 2013 pukul 19.21 · 

---------


Muhammad Wandi ,,,,,

pangapuronipun kanjeng Syekh,,adakah waktunya tiada wasilah lagi dalam pengajaranNya,,, _/|\_

=======================

ADA.............


dahulu nabi SAW tidak langsung diajari Allah, tapi melalui perantara yaitu malaikat jibril........ hubungan langsung dengan Allah itu tatkala nabi SAW mi'roj ke sidrotul muntaha..........


Intinya seperti itu, keadaan langsung berhubungan dengan Allah tanpa perantara hanya bs terjadi saat jiwa/ruhnya mi'roj, selain itu pasti tetap lewat perantara........


Kecuali kalau cuman "merasa" aja yah bs, cuman merasa tanpa perantara....... padahal mi'roj ke langit itu ruh benar2 naik kelangit betulan, bukan hanya maknawiah, atau merasa2 saja, tapi nyata....... orang yang pernah mengalaminya akan faham secara haqqul yakin...... dan menyatakan sendiri, bahwa mi'roj itu memanglah haqq, memang ada dan benar2 bs terjadi......


Lah dalam dzikir jahar dan sirri yang saya ajarkan itu berhubungan dgn Allah melalui perantara warid, warid adalah cahayanya wirid. Sbgmn dahulu nabi SAW, melalui perantaraan jibril, sampai suatu ketika, saat keberuntungan datang, diberi kesempatan oleh Allah utk mi'roj menuju hadrahNYA, maka warid akan mengantarkan sampai titik tertentu, lalu seseorang bs tanpa perantara lagi dalam hubungan dengan Allah........


Yang jelas begitu saja, intinya, kalau ruhnya tdk naik (mi'roj) ke sidratul muntaha, mustahil berhubungan langsung dgn Allah tanpa perantara. Jika ada yg mengatakan berhubungan langsung dgn Allah dalam keadaan biasa/normal (tidak mi'roj ke sidrotul muntaha), dia jelas2 berdusta.

====================================

Dan tidak ada bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. asy-Syura [42]: 51


9 Juni 2013 pukul 18.50 · 


Dawuh Syaikh Muhammad Zuhri

Yolhan Wijaya Fatwa Kehidupan

#dawuh

#fatwakehidupan

#syaikhmuhammadzuhri

#quotesoftheday

#baksospalestina

#viral

#fk

#fyp

#Yolhanwijaya

#quotesstory

#syaikhindonesia

#jangakauanluas

#reels

#storyoftheday

#tasawuf

#sufi

#makrifat

#hakekat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post #104

  Bagaimanakah engkau meletakkan nilai terhadap sesuatu yang hak dan yang batil??....  ketika sesuatu itu terindra tertangkap oleh mata atau...